RSS

pelayanan keluarga berencana


BAB I
PENDAHULUAN

A.   LATAR BELAKANG

Merencanakan kehamilan merupakan bagian penting dalam membentuk keluarga bahagia dan sejahtera. Salah satu solusinya adalah melalui pemakaian alat kontrasepsiyang dianggap sebagai upaya jitu menekan ledakan populasi penduduk. Paradigma baru program Keluarga Berencana Nasional telah diubah visinya darimewujudkan norma keluarga kecil bahagia sejahtera (NKKBS) menjadi visi untuk mewujudkan”keluarga berkualitas tahun 2015”. Keluarga yang berkualitas adalah yangsejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki jumlah anak yang ideal, berwawasan kedepan, bertanggung jawab, harmonis dan Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa (Saefuddin,2003).
Berdasarkan visi dan misi tersebut, program keluarga berencana nasionalmempunyai kontribusi penting dalam upaya meningkatkan kualitas penduduk.
Dalam kontribusi tersebut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telahmewujudkan keberhasilannya selain berhasil menurunkan angka kelahiran dan pertumbuhan penduduk, juga terpenting adalah keberhasilan mengubah sikap mentaldasn perilaku masyarakat dalamupaya membangun keluarga berkualitasDari masa ke masa, alat kontrasepsi terus berkembang. Di samping fungsi utamasebagai pencegah kehamilan, alat kontrasepsi masa kini kian disempurnakan denganmenambahkan manfaat nonkontrasepsi yang ditujukan bagi kenyamanan penggunanya.
Salah satu alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang mengalami perkembangancukup signifikan adalah IUD atau dikenal dengan spiral. IUD ditanamkan di dalamrahim dan bekerja menghambat pembuahan melalui sistem mekanik.
Alat kontrasepsidalam rahim (AKDR) sekarang ini diyakini sebagai salah satu alat yang secara efektif mampu menghindari terjadinya kehamilan dalam rentang waktu yang cukup panjang (2-6 tahun). Namun begitu tidak semua klien berminat terhadap alat kontrasepsi AKDR dikarenakan berbagai alasan yang berbeda-beda seperti takut efek samping, takut proses pemasangan , dilarang oleh suami, dan kurang mengetahui tentang KB AKDR.Adapun berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akseptor KB agar tidak terjadi alah persepsi setelah pemasangan yaitu pengetahuan akseptor KB tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi, status kesehatan klien sebelum berKB, tahu efek samping, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besarnya keluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budayalingkungan dan orang lain.






B.   RUMUSAN MASALAH

             Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah menjelaskan mengenai :
1.      Sejarah AKDR
2.      Pengertian AKDR
3.        Macam-Macam AKDR
4.      Mekanisme Kerja AKDR
5.       Indikasi
6.      Kontaindikasi
7.      Keuntungan dan Kerugian dari Masing-Masing AKDR
8.      Efek Samping dan Komplikasi AK
9.      Penanganan Efek Samping AKDR
10.  Insersi IUD
11.  Cara pemasangan AKDR/IUD
12.  Cara pencabutan  AKDR 

C.   TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu :

1.      Untuk memenuhi nilai tugas dari mata kuliah Pelayanan Keluarga Berencana.
2.      Untuk menambah pengetahuan tentang Alat Kontrasespsi dalam Rahim.
3.      Untuk menambah wawasan  dan pengetahuan pembaca dan    begitu pula dengan penulis sendiri.
                     


BAB II
PEMBAHASAN

A.      SEJARAH AKDR

  Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) atau IUD mempunyai sejarah perkembangan yang sangat panjang sebelum generasi III dengan keamanan, efektivitas,dan penyulit yang tidak terlalu besar. Sejarah abad masa lalu, walaupun tidak tercatat dengan baik, menunjukkan bahwa kafilah dagang “bangsa Arab” mempraktekkan penggunaan AKDR pada unta-unta mereka.Jika melakukan perjalanan jauh dalamkegiatan perdagangannya, mereka memasukkan batu-batu ke dalam rahim untanya. Periode abad berikutnya mencatat keberhasilan Richard Richter pada tahun 1909 di Jerman mengujicobakan penggunaan AKDR pada manusia.
AKDR yangdigunakannya merupakan cicin catgut ulat sutera yang mempunyai kawat nikel dantembaga yang mejulur keluar melalui serviks. Tahun 1920-an Grafenberg mengganticincin catgut dengan cicin berlapis emas atau perak. Tidak lama berselang (1934) Ota diJepang menambahkan struktur pendukung cincin AKDR yang berlapiskan emas atau perak untuk mengurangi angka ekspulsi. Selama berlangsung perang dunia kedua,filosofi politik Jepang dan Nazi mengeliminasi penggunaan AKDR. Baru pada tahun1959 Oppenheimer menggerakkan kembali penggunaan dengan berbagi macam bentuk  pengembangan IUD. Perkembangan seterusnya pada tahun 1960 melahirkan AKDR berbentuk “Loop”hasil karya Jack Lippes. Kemudian berturut-turut tahun 1968-1969, Zipper menambahkan Cu (tembaga) dan Doye dan Clewe (Amerika) menggunakan progestinsebagai bahan anti fertilitas. Penelitian untuk mendapatkan jenis AKDR yang palingefektif, dan aman dipakai masih terus berlangsung hingga sekarang.

B.      PENGERTIAN AKDR 
AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim) adalah suatu alat atau benda yangdimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif, reversibel dan berjangka panjang,dapat dipakai oleh semua perempuan usia reproduktip (Saefuddin,2003).
 AKDR atau IUD atau Sepiral adalah suatu alat yang dimasukan ke dalam rahim wanita untuk tujuan kontrasepsi (Mochtar, 1998).
AKDR adalah suatau usaha pencegahan kehamilan dengan menggulung secarik kertas, diikat dengan benang lalu dimasukkan ke dalam rongga rahim (Prawirohardjo,2005)AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan dimasukkanke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang (BKKBN,2003).

C.      MACAM-MACAM AKDR
Pada saat ini AKDR telah memasuki generasi ke-4. karena itu berpuluh-puluh macam AKDR telah dikembangkan. Mulai dari genersi pertama yang terbuat dari benang sutra dan logam sampai generasi plastic (polietilen) baik yang diambah obat maupun tidak.
a.      Menurut bentuknya AKDR dibagi menjadi :
1.      Bentuk terbuka (oven device)Misalnya: LippesLoop, CUT, Cu-7. Marguiles, Spring Coil, Multiload, Nova-T
2.      Bentuk tertutup (closed device)Misalnya: Ota-Ring, Atigon, dan Graten Berg Ring.

b.     Menurut Tambahan obat atau Metal:
1. MEDICATED IUD
a.Mengandung Logam
ü  AKDR – Cu generasi pertama (First Generation Copper Devices) :
§ CUT – 200 = Tatum – T
§ Cu – 7 = Gravigard
§ MLCU – 250
ü  AKDR – Cu generasi kedua (Second Generation Copper Devices) :
§ CUT – 380 A = paragard
§ CUT – 380 Ag
§ CUT – 220 C
§ Nova – T = novagard : mengandung Ag
§ Delta – T : modified Cut – 220 C (Penambahan benang chromic catgut   pada lengan atas, terutama untuk insersi post partum.
§ MICU – 375
Penjelasan:
Copper IUD
Yang paling kenal sampai saat ini adalah :
v  CuT – 200 = Tatum T :
Panjang 36 mm, lebar 32 mm, mengandung 200mm 2 Cu   (luas permukaan Cu-nya) . Daya kerja :tiga tahun. Cara insersi : withdrawal
v CuT – 200 B :
Seperti Cut – 200, tetapi ujung bagian bawah batang IUD berbentuk bola
v  CuT – 200 Ag :
 Seperti Cut – 200, tetapi mengandung inti Ag didalam tembaganya
v CuT – 220 C :
Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 220 mm2  Cu didalam tujuh selubung, 2 pada lengan dan 5 pada batang vertikalnya. Daya kerja : tiga tahun. Cara insersi : withdrawal.
v  CuT-380A = Para Gard:
Panjang 36 mm, lebar 32 mm, 314 mm2 kawat cu pada batang vertikal, 2 selubung Cu seluasmasing-masing 33 mm2 pada masing-masinglengan horizontal. Daya kerja : 8 tahun (FDA : 10tahun).
v  CuT – 380 Ag :
Seperti CuT – 380 A, hanya dengan tambahan intiAg di dalam kawat Cu-nya. Daya kerja : 5 tahun
v  CuT – 380 S :
CuT – 380 slimlineSelubung Cu diletakkan pada ujung-ujung lenganhorizontalnya dan beberapa di dalam plastiknya.Daya kerja : 2,5 tahun
v  Nova-T = Novagard:
Panjang 32 mm, lebar 32 mm, 200 mm2 luas permukaan Cu dengan anti Ag di dalam kawanCu-nya. Daya kerja : 5 tahun. Cara insersi :withdrawal
v  ML Cu – 250 :
220 mm2luas permukaan kawat Cu. Benang ekor 2 lembar, berwarna hitam atau tidak berwarna.Daya kerja : 3 tahun. Cara insersi : withdrawal.
Ada tiga bentuk Ml Cu – 250:
§ Standar : panjang 35 mm, lebar 18 mm                               
§ Short : panjang 29 mm, lebar 18 mm
§ SL : panjang 24 mm, lebar 18 mm
v  Cu – 7 = Gravigard:
Panjang 36    mm, lebar 26 mm, mengandung 200mm2 luas permukaan Cu, mempunyai tabunginserter diameter paling kecil dibandingkantabung inserter IUD lain-lainnya sehingga dapatdianjurkan untuk nulligravid. Daya kerja : 3 tahun Cara insersi : withdrawal (dapat pula push-out).
v  MPL – Cu 240 Ag :
240 mm2 luas permukaan Cu, dengan inti Ag didalam kawat Cu nya.
Daya kerja : 3 – 5 tahun, Cara insersi : withdrawal.
Ada 3 bentuk MPL – Cu 240 Ag :
·         Ukuran 0 ( panjang 26 mm, lebar 18 mm,untuk kuran rahim, 7 cm atau nuligravid).
·         Ukuran 1 (panjang 31 mm, lebar 23 mm,untuk ukuran rahim 7 – 8 cm)
·         Ukuran 2 : Panjang 25 mm, lebar 30 mm,untuk ukuran rahim, 8 cm atau para – 4 ataulebih.
v  Utering 330 Cu :
Terbuat dari plastik polyethylene, dengan lebar tepi diagonal 15 mm, kawat Cu berdiameter 0,4mm dengan luas permukaan Cu lebih dari 300mm2 ,melingkari sekitar batangnya dan tanpa benang ekor. Tabung inserter berdiameter 4 mm.
Daya kerja        : 3 tahun
Pengeluaran     : dengan ekstraktor IUD 

b.Mengandung Hormon
a.      Progestasert-T = Alza T
v  Panjang 36mm, lebar 32mm, dengan 2 lembar benang ekor warnahitam.
v  Mengandung 38 mg progesteron dan barium sulfat, melepaskan 65mcg progesteron per hari
v  Tabung insersinya berbentuk lengkung
v  Daya kerja :18 bulan
v  Tehnik insersi: plunging?(modified withdrawal)
b.     LNG-20
ü  Mengandung 46-60mg Levonorgestrel, dengan pelepasan 20mcg per hari- Sedang diteliti di Finlandia
ü  Angka kegagalan /kehamilan angatrendah: ‹0,5 per 100wanita per tahun- Penghentian pemakaian oleh karena persoalan-persoalan perdarahanternyata lebih tinggi dibandingkan IUD lainnya, karena 25% mengalamiamenore atau perdarahan haid yang sangat sedikit.
 

2.     UNMEDICATED IUD
Misalnya: Lippes Loop, Marguiles, Saf-T Coil, Antigon.
a.       Lippes Loop.
Diperkenalkan pada awal 1960-an dan dianggap sebagai IUD standard,terbuat dari polyethylene (suatu plastik inert secara biologik) ditambah Barium Sulfat.
Ada 4 macam IUD Lippes Loop :
ü  Lippes Loop A:panjang 26,2 mm, lebar 22,2 mm, benang biru, satu titik pada pangkal IUD dekat benang ekor.
ü  Lippes Loop B: panjang 25,2 mm, lebar 27,4 mm, 2 benang hitam, bertitik-4.
ü  Lippes Loop C:panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm, 2 benang kuning, bertitik 3.
ü  Lippes Loop D:panjang 27,5 mm, lebar 30,0 mm, 2 benang putih , bertitik 2.
Cara insersi : Push – outLippes Loop dapat dibiarkan in-utero untuk selama-lamanya sampaimenopouse, sepanjang tidak ada keluhan dan/atau persoalan bagi akseptornya.
b.      Delta loop : modified lippes loop
Penambahan benang chromic catgut pada lengan atas, terutama untuk insersi post-partumJenis-jenis IUD yang ada di Indonesia, antara lain:
Penambahan benang chromic catgut pada lengan atas, terutama untuk insersi post-partumJenis-jenis IUD yang ada di Indonesia, antara lain:

                                                 Copper-T
a.      Copper-T 
IUD berbentuk T, terbuat dari bahan  polyethelene di mana pada bagian vertikalnyadiberi lilitan kawat tembaga halus.  Lilitan kawat tembaga halus ini mempunyai  efek antifertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik. IUD bentuk T yang baruIUD ini melepaskan lenovorgegestrel  dengan konsentrasi yang rendah selamaminimal lima tahun. Dari hasil penelitian menunjukkan efektivitas yang tinggi dalammencegah kehamilan yang tidak direncanakan maupun perdarahan menstruasi.Kerugian metode ini adalah tambahan terjadinya efek samping hormonal dan amenorhea.

                                                                                               
          Gambar     Copper-7                                                                    Gambar Multi Load 

b.     Copper-7 
IUD ini berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenisini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm dan ditambahkan gulungankawat tembaga (Cu) yang mempunyai luas permukaan 200 mm2 , fungsinya samaseperti halnya lilitan tembaga halus pada jenis Copper-T.
c.       Multi Load 
IUD ini terbuat dari dari plastik ( polyethelene ) dengan dua tangan kiri dan kanan berbentuk sayap yang fleksibel. Panjangnya dari ujung atas ke bawah 3,6 cm.Batangnya diberi gulungan kawat tembaga dengan luas permukaan 250 mm2 atau375 mm2 untuk menambah efektivitas. Ada 3 ukuran multi load , yaitu standar, small(kecil), dan mini.
 


d.     Lippes Loop
                        IUD ini terbuat dari bahan  polyethelene, bentuknya seperti spiral atau huruf S bersambung. Untuk meudahkan kontrol, dipasang benang pada ekornya.  Lippes Loop terdiri dari 4 jenis yang berbeda menurut ukuran panjang bagian atasnya. TipeA berukuran 25 mm (benang biru), tipe B 27,5 mm 9 (benang hitam), tipe C berukuran 30 mm (benang kuning), dan 30 mm (tebal, benang putih) untuk tipeD.  Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah. Keuntungan lain dari pemakaian spiral jenis ini ialah bila terjadi perforasi jarang menyebabkan luka atau penyumbatan usus, sebab terbuat dari bahan plastik. Yang banyak dipergunakandalam program KB masional adalah IUD jenis ini.

e.  IUD Nova T
Terbentuk dari rangka plastik dan tembaga. Pada ujung lengan IUD bentuknya agak melengkung tanpa ada tembaga, tembaga hanya ada pada batangIUD.


Gambar IUD Nova T
f.   IUD Mirena
Terbentuk dari rangka plastik yang dikelilingi oleh silinder pelepashormon Levonolgestrel (hormon progesteron) sehingga IUD ini dapat dipakai oleh ibu menyusui karena tidak menghambat ASI.
Bentuknya seperti ini :

D.     MEKANISME KERJA AKDR 

1.      Mekanisme kerja AKDR sampai saat ini belum diketahui secara pasti, ada yang berpendapat bahwa AKDR sebagai benda asing yang menimbulkan reaksi radang setempat, dengan sebutan lekorit yang dapat melarutkan blastosis atau seperma.Mekanisme kerja AKDR yang dililiti kawat tembaga mungkin berlainan. Tembaga dalam konsentrasi kecilyang dikeluarkanke dalam rongga uterus juga menghambat khasiat anhidrase karbon dan fosfatase alkali. AKDR yang mengeluarkanhormon juga menebalkan lendirsehingga menghalangi pasasi sperma (Prawirohardjo, 2005).
2.      Sampai sekarang mekanisme kerja AKDR belum diketahui dengan pasti, kini pendapat yang terbanyak ialah bahwa AKDR dalam kavum uteri menimbulkanreaksi peradangan endometrium yang disertai dengan sebutan leokosit yang dapatmenghancurkan blastokista atau sperma. Sifat-sifat dari cairan uterus mengalami perubahan-perubahan pada pemakaian AKDR yang menyebabkan blastokista tidak dapat hidup dalam uterus. Walaupun sebelumnya terjadi nidasi, penyelidik- penyelidik lain menemukansering adanya kontraksi uterus pada pemakaianAKDR yang dapat menghalangi nidasi. Diduga ini disebabkanoleh meningkatnya kadar  prostaglandindalam uterus pada wanita (Wiknjoastro, 2005).
3.  Sebagai metode biasa(yang dipasang sebelum hubungan sexual terjadi) AKDR mengubah transportasi tuba dalam rahim danmempengaruhi sel elur dan spermasehingga pembuahan tidak terjadi. Sebagai kontrasepsi daruat(dipasangsetelahhubungan sexual terjadi) dalam beberapa kasus mungkin memilikimekanisme yang lebih mungkin adalah dengan mencegah terjadinya implantasi  atau penyerangan sel telur yang telah dibuahi ke dalam dinding rahim (BKKKBN,2003).
4.  Menurut Saefuddin, et. al (2003) :
Mekanisme kerja yang pasti dari AKDR belum diketahui, namun ada beberapamekanisme kerja yang telah diajukan :
a.       Timbulnya reaksi radang lokal yang non-spesifik di dalam cavum uteri sehinggaimplantasi sel telur yang telah dibuahi terganggu. 
b.      Produksi lokal prostaglandin yang meninggi, yang menyebabkan terhambatnya implantasi.
c.       Gangguan / terlepasnyablastocyst  yang telah berimplantasi di dalamendometrium.
d.      Pergerakan ovum yang bertambah cepat di dalam tuba fallopi.
e.       Immobilisasi spermatozoa saat melewati cavum uteri.
f.        Dari penelitian terakhir, disangka bahwa AKDR juga mencegah spermatozoamembuahi sel telur (mencegah fertilisasi).
g.       Untuk AKDR yang mengandung Cu :
ü  Antagoisme kationic yang spesifik terhadap Zn yang terdapat dalam enzimcarbonic anhydrase yaitu salah satu enzim dalam traktus genitalia wanita, dimana Cu menghambat reaksi carbonic anhydrase sehingga tidak memungkinkan terjadinya implantasi dan mungkin juga menghambataktivitas alkali phospatase.
ü  Mengganggu pengambilan estrogen endogenous oleh mucosa uterus.
ü  Mengganggu jumlah DNA dalam sel endometrium.
ü  Mengganggu metabolisme glikogen
h.      Untuk AKDR yang mengandung hormon progesterone :
ü  Gangguan proses pematangan proliteratif – sekretoir sehingga timbul penekanan terhadap endometrium dan terganggunya proses implantasi(endometrium tetap berada dalam fase decidual/ progestational).
ü   Lendir serviks yang menjadi lebih kental/ tebal karena pengaruh progestin.

E. INDIKASI

Prinsip pemasangan adalah menempatkan IUD setinggi mungkin dalam rongga rahim(cavum uteri). Saat pemasangan yang paling baik ialah pada waktu mulut peranakan masih terbuka dan rahim dalam keadaan lunak. Misalnya, 40 hari setelah bersalin dan pada akhir haid. Yang boleh menggunakan IUD adalah:
v  Usia reproduktif 
v  Keadaan nulipara
v  Menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang
v  Perempuan menyusui yang menginginkan menggunakan kontrasepsi
v  Setelah melahirkan dan tidak menyusui
v  Setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi
v  Risiko rendah dari IMS
v  Tidak menghendaki metoda hormonal
v  Tidak menyukai mengingat-ingat minum pil setiap hari
v  Tidak menghendaki kehamilan setelah 1 – 5 hari senggama
v  Perokok 
v  Gemuk ataupun kurus.
Pemasangan IUD dapat dilakukan oleh dokter atau bidan yang telah dilatih secara khusus. Pemeriksaan secara berkala harus dilakukan setelah pemasangan satu minggu,lalu setiap bulan selama tiga bulan berikutnya. Pemeriksaan selanjutnya dilakukansetiap enam bulan sekali.

F.KONTRAINDIKASI

Menurut Saifudin (2006), yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah :
v  Belum pernah melahirkan
v  Adanya perkiraan hamil
v  Kelainan alat kandungan bagian dalam seperti: perdarahan yang tidak normal dari alatkemaluan, perdarahan di leher rahim, dan kanker rahim.
v  Perdarahan vagina yang tidak diketahui
v  Sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, servisitis)
v  Tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita PRP atau abortus septic.
v  Kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim yangdapatmempengaruhi kavum uteri.
v  Penyakit trofoblas yang ganas.
v  Diketahui menderita TBC pelvic.
v  Kanker alat genital
v  Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
 Kontraindikasi Insersi IUD
1.      Kontra indikasi absolute
a.       Infeksi pelvis yang aktif (akut – sub akut) termasuk persangkaan gonorrhoe atauchlamydia 
b.      Kehamilan atau persangkaan kehamilan
2.       Kontra indikasi relatif kuat
a.       Partner seksual yang banyak  
b.      Partner seksual yang banyak dari partner akseptor IUD
c.       Kesukaran memperoleh pertolongan gawat darurat bila terjadi komplikasi
d.      Pernah mengalami infeksi pelvis atau infeksi pelvis yang akuren, post partumendometritis atau abortus febrilis dalam tiga bulan terakhir 
e.       Cervicitis akut atau purulent
f.        Kelainan darah yang tidak diketahui sebabnya
g.       Riwayat kehamilan ektopik atau keadaan-keadaan yang menyebabkan predisposisi untuk terjadinya kehamilan ektopik 
h.      Pernah mengalami infeksi pelvik satu kali dalam masing menginginkan kehamilan selanjutnya
i.         Gangguan respon tubuh terhadap infeksi (AIDS, DM, dan lain-lain)
3.       Keadaan-keadaan lain yang dapat merupakan kontra – indikasi untuk insersi IUD
a.       Penyakit katup jantung
b.      Keganasan endometrium atau serviks
c.       Stenosis serviks yang berat
d.       Uterus yang kecil sekali
e.       Endometriosis
f.        Myoma uteri
g.       Polip endometrium
h.       Kongenital uterus
i.          Dismenore yang berat
j.         Anemia
k.       Pernah mengalami problem ekspulsi IUD
l.         Leukore atau infeksi vagina
m.    Riwayat infeksi pelvis
n.      Riwayat operasi pelvis
o.      Keinginan untuk mendapatkan anak dikemudian hari atau pertimbangan kesuburandimasa yang akan dating
p.      Ketidakmampuan untuk memeriksa sendiri rekor IUD
q.     Darah haid yang banyak atau perdarahan bercak (spotting)

G.  KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DARI MASING-MASING AKDR 

Secara umum, keuntungan dan kerugian AKDR / IUD sebagai alat kontrasepsiadalah sebagai berikut :
v  Keuntungan Kontrasepsi  IUD
a.       Sangat efektif. 0,6 - 0,8 kehamilan/100 perempuan dalam 1 tahun pertama (1kegagalan dalam 125 - 170 kehamilan)
b.      AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan
c.       Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)
d.      Tidak mempengaruhi hubungan seksual
e.       Tidak ada efek samping hormonal dengan CuT-380A
f.        Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
g.       Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau abortus (apabila tidak terjadi infeksi)
h.      Dapat digunakan sampai manopouse
i.         Tidak ada interaksi dengan obat-obat
j.         Membantu mencegah kehamilan ekktopik 

v  Kelemahan Kontrasepsi IUD
a.       Efek samping umum terjadi: perubahan siklus haid, haid lebih lama dan banyak, perdarahan antar mensturasi, saathaid lebih sakit
b.      Komplikasi lain: merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan, perdarahan berat pada waktu haid atau diantaranya yangmemungkinkan penyebab anemia, perforasi dinding uterus (sangat jarang apabila pemasangan benar).
c.       Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
d.      Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau yang sering berganti pasangan
e.       radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR,PRP dapat memicu infertilitas
f.        Prosedur medis, termasuk pemeriksaan pelvik diperlukan dalam pemasangan AKDR 
g.       Sedikit nyeri dan perdarahan (spotting) terjadi segera setelah pemasangan AKDR.Biasanya menghilang dalam 1 - 2 hari
h.      Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri. Petugas terlatih yang dapatmelepas
i.         Mungkin AKDR keluar dari uterus tanpa diketahui (sering terjadi apabila AKDR dipasang segera setelah melahirkan)
j.         Tidakmencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegahkehamilan normal
k.       Perempuan harus memeriksa posisi benang AKDR dari waktu ke waktu
Keuntungan
kerugian
·         Hanya memerlukan satu kalimotivasi dan satu kali pemasangan.
·         Tidak menimbulkan efek sistemik.
·         Dapat mencegah kehamilan dalam jangka lama.
·         Sederhana, mudah, dan ekonomis
·         Cocok untuk penggunaan secaramassal.
·         Efektifitas tinggi.
·         Kegagalan pasien (patient’s failure) hampir tidak ada.
·         Tidak membutuhkan inteligensiayang tinggi pada pemakaianreversibel.
·         Untuk beberapa jenis AKDR, dapatdipakai untuk jangka lama(bertahun-tahun)

·         Pemasangan dalam dan penyaringaninfeksi saluran genitalia diperlukansebelum pemasangan AKDR.
·         Dapat meningkatkan risiko PenyakitRadang Panggul (PRP).
·         Memerlukan prosedur pencegahan infeksisewaktu memasang dan mencabutnya.
·         Bertambahnya darah haid dan rasa sakitselama beberapa bulan pertama padasebagian pemakai AKDR.
·         Pasien tidak dapat mencabut sendiriAKDR 
·         Tidak dapat terlindungi terhadap PMS,HIV/AIDS.
·         AKDR dapat keluar dari rahim melaluikanalis servikalis hingga keluar ke vagina.
·         Bertambahnya risiko mendapat PRP pada pemakai AKDR yang dahulu pernahmenderita penyakit menular seksual(PMS) atau mereka yang mempunyaimitra seks banyak.


ü  Menurut Saefuddin, et. al (2003)
a.      Keuntungan Cu IUD :
v  Ekspulsi lebih jarang, baik pada insersi interval, post partum maupun post abortus
v  Kehilangan darah haid lebih sedikit
v  Dapat lebih ditolerir oleh wanita yang belum punya anak atau wanita dengan paritasrendah
v   Ukuran tabung inserter lebih kecil
b.     Kerugian Cu IUD
v  Perlu diganti setelah pemakaian beberapa tahun
v  Lebih mahal

ü  Menurut Saefuddin (2004) .
Keuntungan AKDR Non hormonal (Cu T 380A) :
a.       Sebagai kontrasepsi efektivitasnya tinggi Sangat efektif 0,6-0,8 kehamilan per 100 perempuan dalam1 tahun pertama(1kegagalan dalan 125-170 kehamilan) 
b.      AKDR dapat efektf seger setelah pemasangan
c.       Metode jangka panjang
d.      Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat
e.       Tidak mempengaruhi hubungan sexual
f.        Meningkatkan kenyamanan sexual karena tidak perlu takut untuk hamil
g.       Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR(Cu T-380A)
h.      Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI
i.         Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus 
j.         Dapat digunakan sampai menopausek. Tidak ada intraksidengan obat-obat.

ü  Menurut Saefuddin (2004).
Kerugian AKDR (Cu T-380A) Non hormonal :
a.       Efek samping yang umum terjadi:
v  Perubahan siklus haid- Haid lebih lama dan banyak 
v  Perdarahan(spotting) antar menstruasi
v  Disaat haid lebih sakit 
b.      Komplikasi lain :
v  Merasa sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan
v  Perforasi dinding uterus(sangat jarang apabila pemasangan benar)
v  Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
v  Tidak baik digunaka pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti pasangan
v  Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri
v  Tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik karena fungsi AKDR untuk mencegah kehamilan normal.
ü  Menurut Hanafi(2003).
v  Keuntungan IUD hormonal adalah :
a.       Mengurangi volume darah haid dan mengurangi disminorrhoe 
b.      Untuk mencegah adhesi dinding-dinding uterus oleh synechiae (Asherman’sSyndrome).
v  Kerugian IUD hormonal :
a.       Jauh lebih mahal dari pada Cu IUD
b.      Harus diganti setelah 18 bulan
c.       Lebih sering menimbulkan perdarahan mid-siklus dan perdarahan bercak(spotting)
d.      Insidens kehamilan ektopik lebih tinggi
H.     EFEK SAMPING DAN KOMPLIKASI AKDR 

Efek samping dan komplikasi IUD dapat dibagi dalam 2 kelompok yaitu sebagai berikut :
1.      Pada saat insersi
2.      Dikemudian hari
Efek samping dan komplikasi pada saat insersi IUD
v  Rasa sakit / nyeri
Pengobatan : analgetika atau prostaglandin – inhibitor 
v  Muntah, keringat dingin dan syncope
a.       Terjadi pada 1% 
b.      Penyebab : reaksi vaso – vagal
c.       Pencegahan : pemberian atropin 0,4 – 0,5 mg IM / IV, sedativa ringan dananastesi local
d.      Pengobatan : istirahat dalam posisi horizontal
v  Perforasi uterus
a.       Angka kejadian kira-kira 1,2 per 1000 insersi IUD 
b.      Lebih sering terjadi pada tehnik insersi push – out
c.       Perforasi dapat :
- Partial
- Komplit
d.      Gejala-gejala perforasi
- Rasa sakit / nyeri yang tiba-tiba perdarahan
- Tetapi perforasi dapat pula a – symptomatis atau silent
e.       Di kemudian hari persangkaan adanya perforasi
-Benang ekor IUD tidak teraba dan tidak terlihat dan akseptor tidak pernahmerasa IUD-nya keluar pervaginam
- Perdarahan post insersio Kehamilan.

Efek samping dan komplikasi IUD dikemudian hari.
a.       Rasa sakit dan perdarahan
v  Merupakan alasan medis utama dari penghentian pemakaian IUD, yaitu kira-kira4 – 15% dalam 1 tahun. Tetapi menurut penelitian-penelitian rasa sakit dan perdarahan akan berkurang dengan semakin lamanya pemakaian IUD 
v   Perdarahan yang bertambah banyak dapat berbentuk :
ü  Volume darah haid bertambah, kecuali pada IUD yang mengandung hormone
ü  Perdarahan yang berlangsung lebih lama
ü  Perdarahan bercak/spotting diantara haidSebab-sebab dari timbulnya perdarahan haid yang lebih banyak (menorrhagi) belum diketahui pasti.
v  Embedding dan displacementIUD tertanam dalam-dalam di endometrium atau myometrimPenanggulangan : IUD harus dikeluarkan.
b.      Infeksia.
v  Merupakan komplikasi yang paling serius yang berhubungan dengan pemakaianIUD 
v  Akseptor IUD mempunyai risiko 2 kali lebih besar untuk mendapatkan PIDdibandingkan non akseptor KB. Risiko timbulnya PID terutama dalam bulan- bulan pertama setelah insersi IUD (empat bulan pertama)
v  Penyakit akibat hubungan seks (PHS)Partner seksual yang banyak 
v  Umur Di negara-negara yang sedang berkembang, resikonya sama untuk wanita usiamuda maupun usia tua sedangkan di negara-negara maju risiko lebih besar padawanita.

I.        PENANGANAN EFEK SAMPING AKDR 
Menurut Saifuddin (2006), Penanganan efek samping AKDR yaitu

Efek Samping / Permasalahan


Penanganan
Amenora.
Periksa apakah sedang hamil,apbila tidak,janganlepas AKDR, lakukan konseling dan selidiki penyebab amenoreaapabila diketahui. Apabilahamil, jelaskan dan sarankan untuk melepasAKDR bila talinya terlihat dan kehamilan kurangdari 13 minggu. Apabila benang tidak terlihat,atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR  jangan dilepas. Apabila klien sedang hamil daningin mempertahankan kehamilannya tanpamelepas AKDR jelaskan ada resiko kemungkinanterjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilanharus lebih diamati dandiperhatikan
Kejang
Pastikan dan tegaskanlah adanya PRP dan penyebab ain dari kekejangan. Tanggulangi penyebabnya apabila ditemuka. Apabila tidak ditemukan penyebabnya beri analgesik untusedikt meringankan. Apabila klien menglamikejang yang berat, lepaskan AKDR dan bantuklien menentukan metode kontrasepsi yang lain
Perdarahan pervagina yanghebat dan tidak teratur
Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dankehamiolan ektopik. Apabila tidak ada kelainan potologis, perdarahan berkelanjutan serta prdarahan hebat,lakukan konseling dan pemantauan. Beri ibu profen(800mg, 3xsehriselama 1 minggu) untuk mengurangi perdarahan dan berikan tablet besi(1 tablet setiaphari selama 1 sampai 3bulan).
Benang yang hilang
pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakanapakah AKDR terlepas. Apabila tidak hamil danAKDR tidak terlepas, berikan kondom, periksatalinya di dalam saluran endoservik dan kavumuteri(apabila memungkinkan adanya peralatan dantenaga terlatih) setelah masa haid briutnya.Apabila tidak ditemukan rujk ke dokter, lakukan   x-ray atau pemeriksaan ultrasound. Apabila tidak hamil dan AKDR yang hilang tidak ditemukan, pasanglah AKDR baru atau bantulah klienmenentukan metode lain

Adanya pengeluaran cairan darivagina atau dicurigai adanyaPRP
Pastikan pemeriksaan untuk IMS. LepaskanAKDR apabila ditemukan menderita atau sangatdicurigai menderita gonorhoe atau infeksiklamidal, lakukan pengobatan yang memadai. Bila PRP, obati dan lepas AKDR sesudah 48 jam.ApabilaAKDR dikeluarkan beri metode lainsampai masalahnya teratasi.

 
J.         INSERSI IUD
Permasalahan pada insersi IUD
a.       Insersi yang tidak baik dari IUD dapat menyebabkan
v  Ekspulsi
v  Kerja kontraseptif tidak efektif 
v  Perforasi uterus
Untuk sukses / berhasilnya insersi IUD tergantung pada beberapa hal yaitu :
v  Ukuran dan macam IUD beserta tabung inserternya
v  Waktu / saat inser
v  Teknik insersi
v  Penjelasan prosedurnya kepala calon akseptor 
v  Pemeriksaan pelvis bimanual dan sondage uterus
v  Tehnik a dan anti sepsis
v  Penempatan IUD setinggi mungkin di dalam uterus tanpa menembus myometrium
Ukuran dan Macam IUD
v  Makin kecil IUD, makin mudah insersinya, makin tinggi ekspulsinya
v  Makin besar IUD, makin sukar insersinya, makin rendah ekspulsinya.

Waktu / Saat Insersi
a.      Insersi interval
1)     Kebijakan sekarang
Insersi IUD dapat dilakukan setiap saat dari siklus haid asal kita yakin seyakinnya bahwa calon akseptor tidak dalam keadaan hamil.
2)     Kebijakan lama
Insersi IUD dilakukan selama atau segera sesudah haid. Alasan :
·         Ostium uteri lebih terbuka
·         Canalis cervicalis lunak
·         Perdarahan yang timbul karena prosedur insersi
·         Tertutup oleh perdarahan haid yang normal
·         Wanita pasti tidak hamil
Tetapi akhirnya kebijakan ini ditinggalkan karena :
·         Infeksi dan ekspulsi lebih tinggi bila insersi dilakukan saat haid
·         Dilatasi canalis servicalis adalah sama pada saat haid maupun pada saat mid – siklus
·         Memudahkan calon akseptor pada setiap saat ia datang ke klinik KB 
b.     Insersi Post – partum
nsersi IUD adalah aman dalam beberapa hari post-partum hanya kerugian paling besar adalah angka kejadian ekspulsi yang sangat tinggi. IUD yang dipakai atau danyang sedang dicoba
·         Delta loop = modified lippes loop D
·         Delta T = modified cut – 220 C
Kedua IUD tersebut diberi benang chromic catgut pada lengan atasnya, denganmaksud benangnya akan tertanam ke dalam endometrium dan menahan IUD-nya ditempatnya selama involusi uterus. Benangnya secara perlahan-lahan akan larut dalamwaktu 6 minggu.
·         Modified delta loop
·         Modified delta – T
Kedua IUD tersebut diberi tonjolan-tonjolan yang terbuat dari bahan polimer yang biodegradable yang akan larut secara perlahan-lahan.
·         Post partum TMempunyai lengan atas tambahan pada bagian bawah batang IUD, sepanjang 2 cmyang menjurus ke atas dan ke arah luar insersi IUD post-partum tidak mempunyaiefek pada kuantitas atau komposisi dari ASI.
c.      Insersi Post – Abortus
Karena konsepsi sudah dapat terjadi 10 hari setelah abortus, maka IUD dapat segeradipasang sesudah :
·         Abortus trimester I
Ekspulsi, infeksi, perforasi dan lain-lain sama seperti pada insersi interval.
·         Abortus trimester II
Ekspulsi 5 – 10 kali lebih besar dari pada setelah abortus trimester IDari penyelidikan ternyata bahwa lippes loop lebih sering menyebabkankomplikasi dibandingkan Cu IUD.
d.      Insersi Post – Coital
Pengukuran Uterus
1.      Dari penyelidikan didapatkan bahwa efek samping lebih sering timbul pada ukuranuterus yang berada di luar batas-batas normal (6,5 – 8 cm).
2.      Alat-alat yang dikembangkan untuk mengukur dengan lebih akurat panjangnyacavum uteri, misalnya
a)     Hasson wing sound I 
b)     Hasson wing sound II untuk panjang dan lebar cavum uteri
c)      Cavimeter 
Teknik Insersi
Ada 3 cara :
1.      Tehnik push out = mendorong : lippes loop, bahaya perforasi lebih besar 
2.      Tehnik withdrawal = menarik : Cu IUD
3.      Tehnik plunging = “mencelupkan” : progestasert – T
Prosedur Insersi IUD
1.      Pemberian analgetika dan sedativa bila diperlukan
2.      Pasang spekulum dalam vagina dan perhatikan serviks serta dinding-dinding vagina
3.      Bila mungkin, kerjakan papanicolaou smear dan perhatikan bakteriologis terhadapgonorrhoe
4.      Lakukan pemeriksaan dalam bimanual untuk menentukan besar, bentuk, posisi danmobilitas uterus serta untuk menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan adanyainfeksi atau keganasan dari organ-organ sekitarnya
5.      Pasang kembali spekulum dalam vagina, dan lakukan desinfeksi endoserviks dandinding vagina
6.      Pasang tenakulum pada bibir serviks atas, lakukan tarikan ringan padanya untuk meluruskan dan menstabilkan uterus. Ini akan mempengaruhi perdarahan dan resiko perforasi
7.      Lakukan sondage uterus
8.      Masukkan IUD sesuai dengan macam alatnyaLepaskan IUD dalam bidang transverse dari cavum uteri pada posisi setinggi mungkindi fundus uteri. Bila terasa ada tahanan sebelum mencapai fundus, jangan dipaksakankeluarkan alatnya dan lakukan re – insersi
9.      Keluarkan tabung insertersnya
10.  Periksa dan gunting benang ekor IUD sampai 2 – 3 cm dari ostium uteri eksternum
11.  Keluarkan tenakulum dan spekulumCatatan : IUD jangan dibiarkan lebih lama dari 2 menit di dalam tabung insersinya,karena ia akan kehilangan bentuknya (terutama untuk lippes loop).

K.     CARA PEMASANGAN AKDR/IUD

Persiapan alat yang digunakan dalam pemasangan AKDR/IUD :
1.      Bivale speculum
2.      Tanekulum(penjepit portio)
3.      Sounde uterus(untuk mengukur kedalaman uterus)
4.      Forsep
5.      Gunting
6.      Bengkok larutan antiseptic
7.      Sarungtangan steril atau sarung tangan DTT
8.      Kasa atau kapas
9.      Cairan DTT
10.  Sumber cahaya yang cukup untuk penerangan servik 
11.  AKDR(CuT-380A) atau Progestasert-T yang masihbelum rusak dan terbuka
12.  Aligator(penjepit AKDR)
(Menurut Prawirohardjo, Cara pemasangan AKDR atau Progestasert-TPemasangan AKDR sewaktu haid dan mengurangi rasa sakit dan memudahkan insersimelalui servikalis.
1.       Pemeriksaan dalam dilakukan untuk menentukan bentuk, ukuran danposisi uteru
2.      Singkirkan kemungkinan kehamilan dan infeksi velvik 
3.      Servikdibersihkan beberapa kali dengan larutan antiseptik Iinspekulum, servik ditampilkan dan bibir depan servik dijepit dengan cunan servik, penjepit dilakukan kira-kira 2cm dari osteum uteri externum, dengan cunan bergerigiSaturday
4.      Sambil menarik servik dengan cunan servik, masukkanlah sounde uterus untuk menentukan arah sumbukanalis dan uterus, panjang kavum uteri, dan posisi osteumuteri internum. Tentukan arah ante atau retroversi uterus. Jika sounde masuk kurangdari 5 cmatau kavumuteri terlalu sempit, insersi AKDR jangan dilakukan
5.      Tabung penyalur dengan AKDR di dalamnya dimasukkan melalui kanalis servikalissesuai dengan arah dan jarak yang didapat pada waktu pemasangan sounde. Kadang-kadang terdapat tahanansebelum fundus uteri tercapai. Dalam hal demikian pemasangan diulangi
6.      AKDR dilepaskan dalam kavum uteri dengan cara menarik keluar tabung penyalur atau dapat pula dengan mendorong penyalur ke dalamkavumuteri, cara pertamaagaknya dapat mengurangi perforasi oleh AKDR 
7.      Tabung dan penyalur kemudian dikeluarkan, filamen AKDRditinggalkan 2-3cm.


L.      CARA PENCABUTAN AKDR 

1.      Mengeluarkan AKDR lebih mudahjika dilakukan sewaktu haid
2.      Inspikulo filamen ditarik perlahan-lahan,jangan sampai putus AKDR-nya akan ikutkeluar perlahan-lahan. Jika AKDR tidak ikut keluar dengan mudah, lakukan soundeuterus, sehingga osteum uteri internum terbuka. Sounde diputus 900 perlahan-lahan.Selanjutnya AKDR dikeluarkan seperti di atas
3.      Jika filamen tak tampak atau putus, AKDR dapat dikeluarkan ddengan mikro kuret.Kadang-kadang diperlukan anastesi paraservikal untuk mengurangi rasa nyeri
4.      Dilatasi kanalis servikalis dapat dilakukan dengan dilator atau tabung laminaria
5.      AKDR Lippes tidak perlu dikeluarkan seara berkala, jika posisinya baik, tidak adaefek samping, dan pasien masih mau memakainya. AKDR tersebut dibiarkan saja intrauteri. Hanya AKDR tembaga perlu dikeluarkan dan digant secara periodik(2-3tahun),sedang Progestasert-T 1-2 tahun.


BAB III
PENUTUP
 
A.    KESIMPULAN

Untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya di Indonesia pemerintahtelah merencanakan dan mencanangkan program Keluarga Berencana (KB) yang diadakanuntuk membina akseptor sekaligus mencapai sasaran/fungsi yang telah ditetapkan untuk memberi konstribusi bag tercapainya upaya mewujudkan keluarga berkualitas.
Adapun pengertian dari KB yaitu tindakan yang membantu individu atau pasnganuntuk menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, mengatur interval kelahiran,mengontrol kartu keturunan dalam hubungan dengan umur pasanngan suami istri danmenentukan jumlah anak dalam keluarga(Hartanto, 2003). Pengertian dari kontrasepsi adalah cara untuk mencegah terjadinya konsepsi yaitu bertemunya sel sperme dan ovum. Dalam pelayanan KB ada berbagaimacam cara untuk mencegah konsepsi salah satunya dengan menggunakan AKDR.AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastik yang lentur, mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan dimasukkanke dalam rahim melalui vagina dan mempunyai benang (BKKBN,2003)Dalam penggunaan AKDR juga terdapat manfaat, keuntungan serta kerugian dari penggunaan AKDR tersebut.Masalah yang timbul dari penggunaan AKDR tersebut juga diharapkan bisa teratasidengan beberapa cara antara lain dengan memperhatikan cara pemakaian yang bena, efek samping serta konseling bagi pengguna oleh tenaga kesehatan.Adapun berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan oleh akseptor KB agar tidak terjadi alah persepsi setelah pemasangan yaitu pengetahuan akseptor KB tentang persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi, status kesehatan klien sebelum berKB, tahuefek samping, konsekuensi kegagalan atau kehamilan yang tidak diinginkan, besarnyakeluarga yang direncanakan, persetujuan pasangan, bahkan norma budaya lingkungan danorang lain.

B. SARAN
1.      Bagi pengguna alat kontrasepsi AKDR Pengguna hendaknya mengetahui terlebih dahulu alat kontrasepsi yang akan di pakaidengan cara bertanya hal yang ingin diketahui ke tenaga kesehatan.
2.      Bagi tenaga kesehatan
ü  Sebagai tenaga kesehatan hendaknya meningkatkan keterampilannya memasangAKDR yang baik dan sesuai prosedur.
ü  Sebelum memasang AKDR pada klien jangan lupa untuk melakukan infom choice pada klien serta menjelaskan segala informasi tentang AKDR secara lengkap.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar