KELAINAN
PRESENTASI DAN POSISI
I.
Posisi
Oksipitalis Posterior Persisten
A. DEFINISI
Keadaan dimana ubun-ubun
kecil tidak berputar ke depan, sehingga tetap dibelakang. Keadaan ini dinamakan
posisi oksiput posterior persisten. Satu bentuk kelainan putar paksi dalam (
internal rotation ) pada proses persalinan.Pada 10% kehamilan, kepala masuk PAP
dengan oksiput berada pada segmen posterior panggul. Sebagian besar keadaan ini
terjadi pada arsitektur panggul yang normal, namun sebagian kecil terjadi pada
bentuk android.
B. ETIOLOGI
Salah
satu sebab terjadinya posisi oksipitalis oksiput posterior persisten ialah
usaha penyesuaian kepala terhadap bentuk dan ukuran panggul. Misalnya: apabila
diameter anterior posterior lebih panjang dai diameter transfersa seperti pada
panggul antropoid atau segmen depan menyempit seperti pada panggul android,
maka ubun-ubun kecil akan mengalami kesulitan memutar ke depan. Sebab-sebab
lain adalah otot-otot dasar panggul yang sudah lembek pada multipara atau
kepala janin yang kecil dan bulat, sehingga tidak ada paksaan pada belakang
kepala janin, untuk memutar ke depan.
C. MEKANISME PERSALINAN
Bila
hubungan antara panggul dengan kepala janin cukup longgar persalianan pada
posisi oksipitalis posterior persisten dapat berlangsung secara spontan tetapi
pada umumnya lebih lama. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah
simpisis dengan mekanisme sebagai berikut.
Setelah
kepala mencapai dasar panggul dan ubun-ubun besar berada di bawah shimpisis dengan
ubun-ubun besar tersebut sebagai hipomoklion, oksiput akan lahir melalui
perineum diikuti bagian kepala yang lain. Kelahiran janin dengan ubun-ubun
kecil di belakang menyebabkan regangan yang besar pada vagina dan perineum, hal
ini disebabkan karena kepala yang sudah dalam keadaan fleksi maksimal tidak
dapat menambah fleksinya lagi. Selain itu seringkali fleksi kepala tidak dapat
maksimal, sehingga kepala lahir melalui pintu bawah panggul dengan
sirkumferensia frontooksipitalis yang lebih besar dibandingkan dengan
sirkumferensia sub oksipitooksipitalis, kedua keadaan tersebut dapat
menimbulkan kerusakan pada vagina dan perineum yang luas.
Selama
persalinan berlangsung, kepala janin memperoleh tekanan kearah pelvis sehingga
terjadi fleksi kepala. Setelah dilatasi lengkap, proses persalinan selanjutnya
dapat terjadi melalui satu dari 3 kemungkinan dibawah :
Kemungkinan arah Putar
Paksi Dalam ( PPD) pada posisio oksipitalis posterior
1. 65% kasus, kepala melakukan
PPD sejauh 1350 sehingga occiput berada dibelakang simfisis (rotasi
panjang) → persalinan spontan pervaginam normal.
2. 20% kasus, kepala tidak
dapat melakukan PPD secara lengkap sehingga ubun-ubun kecil berada dikiri atau
dikanan (deep tranverse arrest).
3. 15% kasus, terjadi PPD 450
kearah posterior (rotasi pendek) → positio occipitalis posterior
persisten.
D. PROGNOSIS
Jalannya
pada proses persalinan posisi oksiput posterior sulit diramalkan hal ini
disebabkan karena kemungkinan timbulnya kesulitan selalu ada. Persalinan pada
pada umumnya berlangsung lebih lama, kemungkinan kerusakan jalan lahir lebih
besar. Sedangkan kematian peeinatal perinatal lebih tinggi bila dibandingkan
dengan keadaan dimana ubun-ubun kecil berada di depan.
E. PENANGANAN
Menghadapi persalinan dengan UUK di belakang sebaiknya
dilakuka pengawasan persalinan yang seksama dengan harapan terjadinya
persalinan spontan. Tindakan untuk mempercepat jalanya persalinan
dilakukan apabila kala II terlalu lama atau ada tanda-tanda bahaya terhadap
janin. Pada presentasi belakang kepala kadang-kadang kala II mengalami
kemacetan dengan kepala janin sudah berada di dasar panggul dan posisi UUK
melintang. Keadaan ini dinamakan posisi lintang tetap rendah (deep tranverse
arrest).Gangguan jalannya proses persalinan dapat
disebabkan oleh kelainan presentasi, posisi dan perkembangan janin
intrauterine.
Diagnosa distosia akibat janin
bukan hanya disebabkan oleh janin besar, janin dengan ukuran normal namun
dengan kelainan pada presentasi intra uterin tidak jarang dapat menyebabkan
gangguan proses persalinan. Pada
persalinan aktif, pemeriksaan VT dapat memberi informasi yang lebih banyak
dengan terabanya occiput dan ubun-ubun besar .
UKURAN
JANIN PADA DISPROPOSI SEPALOPELVIK
Pada edisi awal dari Williams Obstetrics, yang dimaksud
dengan berat badan berlebihan pada janin adalah bila berat badan mencapai 5000
gram. Pada edisi ke 7 sampai ke 13 kriteria berat badan janin berlebih adalah 4500
gram. Disproporsi fetopelvik bukan hanya disebabkan oleh berat badan janin
yang besar, kelainan lain seperti kelainan putar paksi dalam (posisio
oksipitalis posterior) , kelainan habitus (presentasi muka, presentasi
dahi) juga dapat menyebabkan hambatan kemajuan persalinan.
Upaya untuk
meramalkan adanya Disproporsi Fetopelvik - FPD secara klinis dan radiologis
berdasarkan ukuran kepala janin tidak memberi hasil memuaskan. Thorp dkk (1993)
melakukan evaluasi terhadap maneuver Mueller- Hillis dan menyimpulkan
bahwa tidak terdapat hubungan antara distosia dengan kegagalan desensus kepala
janin. Ferguson dkk ( 1998) menyatakan bahwa sensitivitas dalam meramalkan
adanya CPD dengan menggunakan index fetopelvic ( yang dikemukakan
oleh Thurnau dkk 1991) sangat kurang. Sampai saat ini tidak ada metode terbaik
untuk meramalkan secara akurat adanya FPD berdasarkan ukuran kepala janin.
II.
PRESENTASI
PUNCAK KEPALA
A. DEFINISI
Pada persalinan normal, kepala janin pada waktu melewati
jalan lahir berada dalam keadaan fleksi. Dalam keadaan-keadaan tertentu fleksi
kepala tersebut tidak terjadi sehingga kepala dalam keadaan defleksi. Bergantung pada derajat defleksinya maka dapat terjadi presentasi puncak
kepala, presentasi dahi atau presentasi muka. Presentasi puncak kepala atau
disebut juga presentasi sinsiput, terjadi apabila derajat defleksinya ringan
sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah. Presentasi dahi, bila derajat
defleksinya lebih berat, sehingga dahi merupakan bagian yang paling rendah. Presentasi muka bila derajat defleksinya maksimal, sehingga muka janin
merupakan bagian yang terendah. Pada umumnya presentasi puncak kepala
merupakan kedudukan sementara, yang kemudian akan berubah menjadi presentasi
belakang kepala.
Kekuatan fleksi lebih dominan sehingga sejak awal sudah
terjadi.
- Fleksi kepala menuju tulang dada.
- Fleksi ekstremitas sehingga mendekap dada dan kedua tungkai bawah fleksi pada bokong dan perut janin.
Penurunan kepala janin, yang menemui hambatan akan menyebabkan terjadi
perubahan lebih menjurus kearah fleksi. Hal ini disebabkan oleh :
- Persendian leher berbentuk engsel sehingga dapat diarahkan ke segala jurusan.
- Kedudukan persendian leher tidak terletak ditengah atau garis tengah kepala, tetapi sedikit ke belakang kepala sehingga lebih memberikan keleluasaan untuk terjadi fleksi kepala.
B. DIAGNOSIS
Diagnosis presentasi puncak kepala :
- Dapat diraba kedua fontanella mayor dan minor
- Persalinan dapat berlangsung dengan :
C.
Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinannya hampir sama dengan posisi
oksipitalis posterior persisten, sehingga keduannya seringkali dikacaukan
dengan yang lainnya. Perbedaannya ialah pada presentasi puncak kepala tidak
terjadi fleksi kepala yang maksimal, sedangkan lingkaran kepala yang melalui
jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan titik perputaran
yang berada di bawah simpisis ialah glabela Bentuk puncak kepala
merupakan bentuk defleksi yang paling ringan, tetapi karena lingkaran kepala
bayi yang akan melalui jalan lahir (sirkumfrensia oksipito-bregmatika)
sepanjang 34 cm, maka akan terjadi distorsia.
Pada keadaan dan kedudukan atau penempatan belakang
kepala terdapat :
- Lingkaran yang melalui jalan lahir cukup besar (34 cm) sehingga dapat menimbulkan trauma.
- Morbiditas dan mortalitas lebih tinggi
- Bentuk persalinan: 1) Kavum atau forceps ekstraksi,2) Seksio secarea.
III.
PRESENTASI
MUKA
A. DEFINISI
Pada presentasi muka terjadi hiperekstensi maksimum kepala sehingga oksiput menempel dengan punggung janin dengan demikian maka yang merupakan presentasi (bagian terendah) janin dan sekaligus denominator adalah mentum. Dalam orientasinya dengan simfisis pubis, maka presentasi muka dapat terjadi dengan mento anteriormento posterior. Atau Pada janin aterm dengan presentasi muka mento-posterior, proses persalinan terganggu akibat bregma (dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis pubis. Dalam keadaan ini, gerakan fleksi kepala agar persalinan pervaginam dapat berlangsung terhalang, maka persalinan muka spontan per vaginam tidak mungkin terjadi.
Pada presentasi muka terjadi hiperekstensi maksimum kepala sehingga oksiput menempel dengan punggung janin dengan demikian maka yang merupakan presentasi (bagian terendah) janin dan sekaligus denominator adalah mentum. Dalam orientasinya dengan simfisis pubis, maka presentasi muka dapat terjadi dengan mento anteriormento posterior. Atau Pada janin aterm dengan presentasi muka mento-posterior, proses persalinan terganggu akibat bregma (dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis pubis. Dalam keadaan ini, gerakan fleksi kepala agar persalinan pervaginam dapat berlangsung terhalang, maka persalinan muka spontan per vaginam tidak mungkin terjadi.
Presentasi muka ialah keadaan dimana kepala dalam
kedudukan defleksi maksimal sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka
merupakan bagian terendah menghadap ke bawah. Presentasi muka dikatakan primer
apabila sudah terjadi sejak masa kehamilan, dan dikatakan sekunder bila baru
terjadi pada waktu persalinan. Prinsip penanganan untuk ibu dengan kompikasi ini adalah
dengan persalinan lewat tindakan operasi. Atau biasanya seksio secarea. Untuk
bayi ada beberapa bentuk trauma yang dapat terjadi pada presentasi ini. Edema
yang besar pada kelopak mata, hidung, bibir dan leher didapatkan pada
presentasi muka terlihat merupakan tanda bahaya tetapi dapat kembali kekeadaan semula
secepatnya.
B. ETIOLOGI
Pada
presentasi muka primer sebelum persalinan berlangsung fetus seringnya abnormal.
Pada anensephalus yang biasa terjadi, vertek tidak ada. Fetus goitre, kepala
tidak dapat versi biasanya tonus otot ekstensor tonus berlebuhan dan bertahan
dalam sikap ekstensi pada beberapa setelah lahir. Presentasi muka sekunder yang
berkembang dalam persalinan sering tidak diketahui sebabnya. Pada posisi
oksipito pesterior defleksi diameter biparietal mungkin mempunyai kesulitan
dalam menjauhi diameter sacro cotyloid dari pelvis maternal. Diameter
bitemporal lebih cepat turun, kepala ekstensi dan muka terlihat. Uterus yang
berada disisi samping (uterus obliq). Kekuatan kontraksi uterus berjalan kearah
kepala bagian frontal supaya kepala ekstensi dan masuk kerongga pelvis.
Presentasi muka juga lebih sering terjadi pada flat pelvis, dalam rongga pelvis
dan pada prematuritas dan dimana terjadi polihidramnion atau kehamilan ganda.
Sebab-sebab presentasi muka sangat banyak, dan pada
umumnya berasal dari setiap faktor yang menyebabkan defleksi atau menghalangi
fleksi kepala. Karena itu, posisi ekstensi kepala lebih sering terjadi pada
panggul sempit atau bayi yang sangat besar. Dalam penelitian terhadap 141
presentasi muka oleh Hellmann dkk. (1950), insiden pintu atas panggul sempit
adalah 39%. Insiden penyempitan pintu panggul yang tinggi di samping bayi yang
besar harus diingat ketika mempertimbangkan pengelolahan presentasi kepala.
Pada wanita multipara, perut yang menggantung merupakan faktor predisposisi
lain bagi presentasi muka. Keadaan tersebut menyebabkan punggung bayi
menggantung ke depan atau kea rah lateral, sering dengan arah yang sama seperti
ditunjukan oleh oksiput, sehingga menambah ekstensi vertebra servikalis dan
torakalis. Pada kasus yang luar biasa, pembesaran leher yang mencolok atau
lilitan tali pusat di leher dapat menyebabkan ekstensi. Janin anensefali pada
umumnya mempunyai presentasi muka karena kesalahan perkembangan cranium.
C. DIAGNOSIS
Presentasi
muka tidak mudah didiagnosis dalam kehamilan. Hal ini seharusnya diperhatikan
jika ada lekukan yang dalam antara kepala dengan bagian belakang. Bunyi jantung
terdengar melalui dinding dada anterior pada sisi dimana lutut teraba. Suaranya
terdengar jelas pada posisi mento anterior. Pada posisi mento posterior bunyi
jantung janin lebih sulit terdengar karena dada pada posterior. Ultrasound
dalam kehamilan dapat digunakan untuk memastikan diagnosis presentasi muka.
Diagnosis dapat ditegakan dengan pemeriksaan vagina, dengan palpasi yang lembut
akan teraba orbital dan mulut dengan gusi. Adanya gusi dan mulut dalam
presentasi muka harus dibedakan dari anus pada presentasi bokong. Biasanya
fetus akan membantu diagnosis dengan menghisap jari tangan pemeriksa saat
dilakukan pemeriksaan. Presentasi muka didiagnosa dengan menentukan posisi dagu
apakah anterior atau posterior. Presentasi muka posterior, yang tidak bisa
berputar ke posisi anterior, akan menyebabkan obstruksi persalinan. Kemajuan
persalinan menjadi sangat sulit pada pemeriksaan pervaginam untuk
membedakan muka karena muka menjadi oedemmeriks. Pemeriksaan harus
hati-hatiuntuk menghindari trauma pada mata.
Pada presentasi muka, tubuh janin berada dalam keadaan
ekstensi, sehingga pada pemeriksaan luar dada akan teraba seperti punggung.
Bagian kepala yang menonjol, yakni belakang kepala, terdapat di sebelah yang
berlawanan dengan letak dada. Di daerah dada dapat pula di raba bagian-bagian
kecil janin dan denyut jantung janin terdengar lebih jelas. Untuk membuat
diagnosis presentasi muka, selain pemeriksaan luar pada umumnya perlu dibantu
dengan pemeriksaan dalam. Bila muka sudah masuk ke dalam rongga panggul,
jari pemeriksa dapat meraba dagu, mulut, hidung, dan pinggir orbita.
Pemeriksaan harus dilakukan dengan hati-hati, sehingga tidak melukai mata dan
mulut. Adanya kaput suksadenum menyulitkan pemeriksaan, sehingga kadang-kadang
muka dikacaukan dengan bokong. Kesalahan ini tidak perlu terjadi kalau
sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan luar yang seksama. Di samping itu mulut
dapat dikenal karena adanya pinggir alveola. Apabila masih ada keragu-raguan
dapat dilakukan foto rontgen atau bila ada dengan MRI
D. MANAJEMEN
Pada
posisi mento anteerior seringnya proses persalinan berjalan normal. Pada kala
II kelahiran normal diantisipasi dengan menggunakan episiotomi meskipun
diameter sub mento bregmatika 9,5 cm. Sub mento vertikal 11,5 cm yang dapat
merobek perineum saat kelahiran. Jika kelahiran normal terjadi ekstensi
dipertahankan dengan menekan sinsiput hingga dagu berada di bawah simpisis
pubis, kepala difleksikan sehingga memungkinkan verteks dan oksiput melewati
perineum. Posisi mento lateral dan mento posterior lebih berbahaya. Kelahiran
spontan tidak akan terjadi, kemungkinan persalinan obstruksi dan dibutuhkan
penatalaksanaan dengan segera.
E. KOMPLIKASI
Komplikasi
yang dapat terjadi pada presentasi muka, meliputi;
1. Prolapsus tali pusat
2. Obstruksi persalinan,
karena ;
3. Kelahiran operasi
mungkin dibutuhkan
4. Trauma perineum berat dapat
terjadi karena, meskipun diameter sub mento bregmatik hanya 9,5 cm, sub mento
vertikal 11,5 cm akan memperlebar vagina dan perineum. Bentuk tengkorak fetus
abnormal disebabkan perdarahan intrakranial.
5. Muka memar dan oedem
F. Mekanisme persalinan
Mekanisme persalinan presentasi muka serupa dengan
persalinan presentasi belakang kepala. Secara berurutan akan terjadi proses
kepala mengalami penurunan (descent), rotasi internal, fleksi, ekstensi dan
rotasi eksternal. Sebelum masuk panggul biasanya kepala janin belum dalam sikap
ekstensi maksimal, sehingga masih presentasi dahi. Ketika
terjadi penurunan kepala, tahanan dari panggul akan menyebabkan kepala lebih
ekstensi sehingga terjadi perubahan menjadi presentasi muka. Ketika masuk
pintu atas panggul dagu dalam posisi transversal atau oblik.
Pada presentasi muka
terjadi defleksi maksimum kepala sehingga oksiput menempel dengan
punggung janin dengan demikian maka yang merupakan bagian terendah janin adalah
mentum. Dalam kaitannya dengan simfisis pubis, maka presentasi muka
dapat terjadi dengan mento anterior atau mento posterior. Pada janin aterm dengan
presentasi muka MENTO POSTERIOR, proses persalinan terganggu akibat bregma
(dahi) tertahan oleh bagian belakang simfisis pubis. Dalam keadaan ini, gerakan
fleksi kepala agar terjadi persalinan pervaginam menjadi terhalang, sehingga
persalinan muka spontan per vaginam tidak terjadi. Presentasi muka
jarang terjadi bila kepala masih diatas Pintu Atas Panggul. Umumnya keadaan
diawali dengan presentasi dahi yang kemudian pada proses desensus berubah
menjadi presentasi muka . Mekanisme persalinan terdiri dari densensus –
putar paksi dalam – fleksi – ekstensi dan putar paksi luar.
Tujuan
Putar Paksi Dalam adalah agar dagu berada dibelakang simfisis pubis oleh karena
hanya pada posisi ini kepala janin dapat melewati perineum melalui gerakan
fleksi. Setelah Putar Paksi Dalam dagu kedepan selesai dan tahapan desensus
berikutnya berlangsung, maka dagu dan mulut nampak di vulva dan persalinan
kepala berlangsung melalui gerakan fleksi. Setelah kepala lahir, oksiput akan
mendekati anus dan dagu berputar seperti saat memasuki Pintu Atas Panggul.
Persalinan bahu berlangsung seperti pada presentasi belakang kepala.Pada presentasi
muka, edema akan merubah bentuk wajah
Molase juga terjadi dan menyebabkan bertambah panjangnya diameter
occipitomentalis. Bila dagu berada di anterior, persalinan kepala per vaginam
masih dapat berlangsung pervaginam melalui gerakan fleksi kepala. Pada sejumlah
kasus presentasi muka dagu posterior, dagu akan berputar spontan ke anterior
pada persalinan lanjut.
G. PENATALAKSANAAN
Bila ukuran panggul normal dan kemajuan proses persalinan berlangsung secara normal, persalinan pervaginam pada presentasi muka dapat berlangsung dengan wajar. Observasi Detik Jantung Janin dilakukan dengan monitor eksternal. Presentasi muka sering terjadi pada panggul sempit, maka terminasi kehamilan dengan SC sering terpaksa harus dilakukan.
Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala , pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi ekstraksi TIDAK BOLEH dikerjakan.
Bila ukuran panggul normal dan kemajuan proses persalinan berlangsung secara normal, persalinan pervaginam pada presentasi muka dapat berlangsung dengan wajar. Observasi Detik Jantung Janin dilakukan dengan monitor eksternal. Presentasi muka sering terjadi pada panggul sempit, maka terminasi kehamilan dengan SC sering terpaksa harus dilakukan.
Usaha untuk merubah presentasi muka menjadi presentasi belakang kepala , pemutaran posisi dagu posterior menjadi dagu anterior secara manual atau dengan cunam, serta dengan versi ekstraksi TIDAK BOLEH dikerjakan.
IV.
A.
DEFINISI
Presentasi
dahi jarang terjadi dari pada presentasi muka, terjadi hanya 1 dari 2000
persalinan. Kepala pada pertengahan antara versi dan ekstensi, dengan diameter
mento vertikal 13 cm.
B. ETIOLOGI
Etiologi
sama dengan penyebab presentasi muka. Presentasi dahi sering merupakan keadaan
“temporer” dan dalam perjalanan persalinan selanjutnya dapat spontan berubah
menjadi presentasi muka atau presentasi belakang kepala.
C. DIAGNOSIS
Pemeriksaan
abdomen kepala sangat tinggi dan diameter sangat besar, teraba lekukan antara
oksiput dengan bagian belakang. Pada pemeriksaan vagina, presentasi tinggi dan
tidak bisa diraba. Jika dahi dapat teraba, orbital berada pada satu sisi dan
fontanel anterior berada pada sisi yang lain. Diagnosis dapat ditegakkan dengan
radiografik atau dengan USG. Diagnosa ditegakkan bila VT pada PAP meraba orbital
ridge dan ubun-ubun besar.
D. MEKANISME
PERSALINAN
Pada
janin kecil atau panggul luas persalinan pervaginam biasanya berlangsung dengan
mudah. Pada janin aterm dengan ukuran normal, persalinan pervaginam sulit
berlangsung oleh karena engagemen tidak dapat terjadi sampai adanya molase
hebat yang memperpendek diameter occipitomentalis atau sampai terjadinya fleksi
sempurna atau ekstensi menjadi presentasi muka. Persalinan pervaginam pada
presentasi dahi yang persisten hanya dapat berlangsung bila terdapat molase
berlebihan sehingga bentuk kepala berubah. Molase berlebihan akan menyebabkan
caput didaerah dahi sehingga palpasi dahi menjadi sulit. Pada presentasi dahi
yang bersifat sementara (penempatan dahi) , progonosis tergantung pada presentasi
akhir. Bila presentasi dahi sudah bersifat menetap, prognosis persalinan
pervaginam sangat buruk kecuali bila janin kecil atau jalan lahir sangat luas. Prinsip
penatalaksanaan sama dengan pada presentasi muka.
E. MANAJEMEN
Bidan
harus dengan cepat menghubungi dokter jika ada suspek atau diagnosa presentasi
dahi dalam persalinan, dan seharusnya ibu dirujuk ke RS. Pada semua
malpresentasi seringnya terjadi KPD dan resiko prolapsus tali pusat lebuh
besar. Oleh karena itu pemeriksaan pervaginam dilakukan sesegera mungkin untuk
mendeteksi prolapsus tali pusat. Jika presentasi dahi didiagnosis segera dalam
persalinan dapat mengubah presentasi muka menjadi ekstensi penuh atau fleksi
pada presentasi verteks. Jika presentasi dahi menetap dan fetus dalam ukuran
normal tidak mungkin terjadi kelahiran pervaginam dan SC harus segera
dilakukan. Manuver jarang dilakukan pada presentasi muka, tindakan yang paling
aman untuk ibu dan bayi adalah dengan menggunakan SC.






0 komentar:
Posting Komentar